Dream Big, Start Small, Act Now
Rabbi zidni 'ilman
war zuqni fahman
“Yaa Rabb, tambahkanlah ilmu bagiku, dan berilah aku kefahaman”
“… Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami …”
“Yaa Rabb, tambahkanlah ilmu bagiku, dan berilah aku kefahaman”
“… Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami …”
Nah..ini kisah yang
nggak akan pernah saya lupakan.Dulu waktu kecil saya nggak pernah
bermimpi bisa naik pesawat terbang. Naik pesawat terbang identik
dengan membayar mahal.Tapi sekarang dengan adanya regulasi di bidang
perhubungan udara, banyak bermunculan maskapai-maskapai baru yang
menawarkan tiket murah.
Kesempatan naik
pesawat terbang itu akhirnya datang setelah saya mendapat liburan
sekolah bersama rekan2 saya sekantor (pak Moh. Khoirul Anwar, S.Pd
dan ibu Eko MudhofaN, S.Pd) dan rekan2 lainnya untuk suasana baru dan
pengalaman baru di negeri orang. Kurang lebih setelah anak-anak
selesai magang, yaitu dibulan April (9-04-2012) kami berangkat ke
Surabaya (tempat tinggal Ibu Eko (Lamongan) sama Pak Anwar (Gresik)).
Satu hari sebelum keberangkatan, saya sempat stress. Bukan karena
gara-gara akan naik pesawatnya tapi karna onkosnya dinaikkan lagi,
tapi pas karena mau naik pesawat terbang.Pikiran saya sudah mikir
yang jelek-jelek, wah….jangan..jangan ntar ada apa-apa pas naik
pesawat apalagi mengingat sudah musim penghujan, cuaca bisa aja tidak
mendukung perjalanan.Tapi perasaan itu aku pendam sendiri.
Setelah menunggu 1
jam, akhirnya pesawat dari Surabaya itu mendarat juga. Setelah
menunggu kurang lebih 20 menit akhirnya kami masuk ke perut pesawat
Citilink. Sambil berdoa dan mendengarkan penjelasan pramugari,
kupasang erat sabuk pengaman ini, dan tak terasa pelan-pelan pesawat
bergerak ke runway untuk persiapan take off. Akhirnya dengan disertai
suara gemuruh mesin, pesawat itu melaju kencang dan melesat
meninggalkan Kota Banjar Baru. Rasanya jumlah darah di otak seperti
berkurang ketika pesawat mulai menanjak naik, dan kulihat dari
jendela kerlap-kerlip lampu di bawah semakin mengecil dan akhirnya
lama-lama ngk kelihatan dan hanya warna hitam saja.


Perjalanan yang sebenarnya singkat (50 menit) untuk sampai ke Surabaya, rasanya lama banget. Cuman kalau disini berangkatnya jam 6 datang di Surabaya Juga jam 6.
Setelah berada di dalam pesawat citilink sekitar setengah jam, seorang pramugari citilink memberikanku makanan . Makanan itu tersusun rapi dalam tamban lengkap dengan segelas minuman bewarna kuning dengan tambahan es di dalamnya. Terlihat terasa begitu menggoda untuk segera disantap. Aku mengambil lauknya, memasukkan ke dalam mulut dan mengunyah pelan – pelan. Duhh rasanya enak sekali.
Berkali-kali aku
melihat jam tangan. Dalam hati aku berkata, ini jam lama banget
jalannya. Apalagi ketika mendekati kota Surabaya. Dipikir-pikir naik
pesawat itu kayak naik peti mati, ..rasanya baru inget kalo kita itu
tidak ada apa-apanya sama yang menciptakan kita. Klo jatuh ya sudah
mati. Di dalam pesawat yang penuh dengan AC, bukannya saya
kedinginan, berkeringatan malah. Tapi aku percaya banget, klo memang
blom takdir kita mati, ya nggak akan mati walau pesawat jatuh.

Akhirnya pikiran tersebut membuat aku lebih tenang dan rileks.Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, pramugari mengumumkan sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Internasional Juanda Surabaya, dan tidak lama kemudian mulai kulihat kerlap kerlip lampu kota Surabaya,semakin lama semakin membesar.Huuuhh..akhirnya mendarat juga. Ketakutankupun hilang. Aku duduk nyaman. Betapa senangnya hatiku ketika pesawat mendarat dengan mulus dan aman. Ploong rasanya bisa menginjak tanah lagi. Alhamdulilah ya Allah,…engkau berikan keselamatan pada kami.

Akhirnya pikiran tersebut membuat aku lebih tenang dan rileks.Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, pramugari mengumumkan sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Internasional Juanda Surabaya, dan tidak lama kemudian mulai kulihat kerlap kerlip lampu kota Surabaya,semakin lama semakin membesar.Huuuhh..akhirnya mendarat juga. Ketakutankupun hilang. Aku duduk nyaman. Betapa senangnya hatiku ketika pesawat mendarat dengan mulus dan aman. Ploong rasanya bisa menginjak tanah lagi. Alhamdulilah ya Allah,…engkau berikan keselamatan pada kami.




Post a Comment
Post a Comment