Di antara ibadah yang paling penting yang mudah mendekatkan seorang hamba pada Allah adalah tholabul ‘ilmi atau belajar ilmu agama. Sedangkan perkara yang amat penting yang perlu diperhatikan dan selalu dikoreksi adalah niat dalam belajar. Tidak ada kebaikan yang diperoleh jika seseorang ketika belajar malah ingin mencari ridho selain Allah. Oleh karena itu, para ulama sangat memperhatikan niatnya dalam belajar apakah sudah benar ataukah tidak karena jika tidak ikhlas, maka dapat mencacati ibadah yang mulia ini.
Sufyan bin
‘Uyainah pernah berkata,
طلبنا هذا العلم لغير الله فأبى الله أن يكون لغيره
“Kami menuntut ilmu awalnya berniat mencari ridho selain Allah.
Kemudian Allah tidak ingin jika niatan tersebut kepada selain-Nya.”
Di antara
ibadah yang paling penting yang mudah mendekatkan seorang hamba pada Allah
adalah tholabul ‘ilmi
atau belajar ilmu agama. Sedangkan perkara yang amat penting yang perlu
diperhatikan dan selalu dikoreksi adalah niat dalam belajar. Tidak ada kebaikan
yang diperoleh jika seseorang ketika belajar malah ingin mencari ridho selain
Allah. Oleh karena itu, para ulama sangat memperhatikan niatnya dalam belajar
apakah sudah benar ataukah tidak karena jika tidak ikhlas, maka dapat mencacati
ibadah yang mulia ini.
Sufyan bin
‘Uyainah pernah berkata,
طلبنا هذا العلم لغير الله فأبى الله أن يكون لغيره
“Kami menuntut
ilmu awalnya berniat mencari ridho selain Allah. Kemudian Allah tidak ingin
jika niatan tersebut kepada selain-Nya.”
Kebanyakan
dari kita sekarang ini bahwa niat belajar sudah keliru yaitu niatan ingin
mencari kedudukan mulia bukan karena Allah SWT melainkan hanya kemuliaan yang
sifatnya duniawi. Anas bin Malik berkata,
مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ يُبَاهِي بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ يُمَارِي بِهِ
السُّفَهَاءَ ، أَوْ يَصْرِفُ أَعْيُنَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ
النَّارِ
“Barangsiapa menuntut ilmu hanya
ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang
manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR.
Hakim dalam Mustadroknya)
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Imam Muslim, dikisahkan ada tiga orang manusia yang masuk neraka bukan
karena dia melakukan kemaksiatan, tetapi justru karena dia melaksanakan amal
sholeh, cuma sayang ketika dia melaksanakan amal sholehnya tidak didasari
dengan niat yang ikhlas karena Allah, tetapi ingin dipuji dan dipuja manusia.
Orang pertama yang masuk neraka adalah seorang syuhada (yang mati
di medan perang) tetapi sayang dia berperang bukan karena Allah tetapi
karena dia ingin disebut pahlawan oleh kaumnya. Orang kedua yang masuk
neraka adalah seorang ulama yang menyebarkan ajaran Islam di
tengah-tengah masyarakat, tetapi sayang dia melakukan itu bukan karena Allah,
tetapi karena ingin mendapat popularitas supaya disebut seorang ulama besar
yang dihormati. Dan orang ketiga yang masuk neraka adalah orang
kaya yang dermawan yang selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah,
suka membantu dan menolong fakir miskin, tetapi sayang dia melakukan itu bukan
karena Allah tetapi ia ingin mendapat pujian dan penghormatan dari masyarakat
sebagai seorang dermawan.
Dari kisah hadits di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa salah satu
syarat utama diterimanya amal baik seseorang adalah niat yang ikhlas
semata-mata karena Allah I, hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi:
اِنَّمَااْلاَعْمَالُ
باِالنِّيَّاتِ, وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى ...
“Tiap-tiap amal harus disertai dengan
niat, dan balasan bagi setiap amal manusia tergantung kepada apa yang
diniatkannya..." (H.R. Bukhari)
Salah satu amal baik
kita yang perlu diluruskan niatnya adalah menuntut ilmu. Karena di zaman
sekarang ini banyak orang yang sekolah tinggi dengan memakan biaya besar dan
memakan waktu yang lama, tidak diniatkan ikhlas karena Allah, tetapi
semata-mata ingin mendapat gelar, pangkat atau kedudukan yang bersifat duniawi.
Oleh karena itu, supaya menuntut ilmu
yang kita lakukan
berhasil / sukses, tidak sia-sia, dan supaya bernilai ibadah di sisi Allah,
maka dalam menuntut ilmu baik secara formal (di sekolah) maupun non formal (di
lingkungan masyarakat) maka kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Ketika menuntut ilmu kita harus benar-benar meluruskan niat
dengan ikhlas semata-mata ibadah kepada Allah, bukan karena takut sama orang
tua, guru atau ingin mendapat gelar semata dan niatan lain yang akan dapat
menghapus pahalanya nanti di akhirat.
2. Setelah meluruskan niat, kita harus juga menyempurnakan
ikhtiar dengan cara belajar dengan tekun, ulet, sungguh-sungguh, dan tanpa
putus asa, serta lakukanlah dengan penuh kedisiplinan, karena tiada kesuksesan
tanpa kedisiplinan. Misalnya kalau di sekolah jangan hanya mau belajar itu
kalau akan ulangan, dan jangan belajar itu hanya ingin mengejar nilai yang
bagus semata tetapi lakukanlah belajar (menuntut ilmu) itu setiap hari baik
akan ada ulangan atau tidak, sedangkan hasilnya kita pasrahkan (tawakal) saja
kepada Allah. Karena Allah menilai amal belajar kita bukan hasil belajarnya
(nilai ulangannya) tetapi Allah menilai prosesnya (kegigihan, kesungguhan
dan keikhlasan kita dalam menuntut ilmu).
3. Iringilah ikhtiar kita dengan selalu berdo’a kepada Allah I,
karena tanpa pertolongan-Nya usaha kita akan sia-sia.
Mudah-mudahan dengan kiat-kiat di atas kegiatan kita menuntut ilmu akan sukses
dan menjadi amal sholeh yang diterima di sisi Allah SWT.
Post a Comment
Post a Comment