KOTA KELUA atau KALUA
![]() |
| suasana perdagangan di pasar kelua |
DESA MASINTAN
![]() |
| Jembatan Masintan |
Desa Masintan terletak tidak jauh dari Pasar Kelua, yaitu seberang
sungai dari Pasar Kelua. Desa Masintan wilayahnya tidak begitu luas
dibandingkan dengan Desa Ampukung dan Desa Asam Pauh kampung sebelah
yang menghimpitnya di tengah-tengah. ciri khas dari Desa masintan adalah
memiliki jembatan Besi tua yang sampai sekarang masih kokoh dan masih
dapat dipergunakan untuk kepentingan jalan khalayak ramai untuk
menyeberang. Konon jembatan tersebut adalah peninggalan dari Penjajahan
Belanda di Kelua.
Asal Muasal dingarani Masintan adalah sbb:
Ternyata film-film perjuangan Indonesia melawan penjajahan Belanda yang
sering penulis lihat di televisi sewaktu kecil memang benar ada dan
terjadi di kampung halaman sendiri, di film perjuangan tersebut para
penjajah Belanda merampas paksa hasil bumi dari rakyat Indonesia, yaitu
padi, sayur-sayuran dll.
![]() |
| padang tagah dihiga rumah |
Menurut cerita yang penulis dengar sendiri dari narasumber cerita yaitu
Nenek Gst. Zainab yang tinggal di Desa Ampukung, para penjajah Belanda
tidak hanya merampas padi hasil panen dan sayuran saja, tetapi mereka
juga merampas perhiasan yang dimiliki seperti Emas, Intan dan
barang-barang berharga yang dimiliki serta bumbu-rempah makanan seperti
gula, garam dll. bahkan lebih kejamnya lagi para penjajah belanda tidak
menginginkan para rakyat untuk memiliki kain / baju yang layak pakai,
mereka selalu mengambil paksa apabila melihatnya. sehingga tidak heran
zaman dulu itu para rakyat menggunakan baju dari Karung Beras.
Konon di Desa Masintan dulu para penduduknya banyak yang memiliki
perhiasan seperti Emas dan Intan, karena mereka tidak ingin hartanya
dirampas oleh Belanda, jadi mereka menyimpannya didalam tanah dekat
rumah (dipatak dalam tanah) untuk menghindari penjajah Belanda yang
kadang bisa datang sewaktu-waktu mengambilnya. Ujar Sidin (Nenek Gst.
Zainab) markas para Belanda untuk wilayah Kelua berkemah di desa Kepala
Tembok yang tepatnya lagi di sekitar Gudang Kantal, sedangkan markas
utamanya ada di Tanjung.
Dari situlah mungkin Desa itu diberi nama Desa Masintan, yaitu
perpaduan kata dari Emas dan Intan yang banyak disimpan didalam tanah
desa tersebut.
TIMBUK SIBACU
Timbuk
Sibacu adalah sebuah jalan yang membentang antara desa Pari- Pari
dengan desa Banua Rantau / Desa Purai, Panjang jalan Timbuk Sibacu
diperkirakan mungkin kurang lebih 1,5 Km dari jalan raya desa Pari-Pari
menuju kejalan dalam.
Asal Muasal dingarani Timbuk Sibacu adalah :
Terkisah bahari ada satu orang yang jagau/ Tacut yang kemudian menjadi
gila dan stress karena sesuatu hal, Namanya orang tadi adalah Bacu,
setiap harinya si orang gila tadi (si Bacu) nongkrong di sepanjang jalan
tersebut dan bisa dikatakan menjadi penghuni jalan tersebut yang
sekarang sudah licin dan mulus aspalnya.
Menurut cerita warga setempat penduduk asli desa Pari-Pari seorang guru
SD yang bernama Bahrul, apabila ada orang yang melewati jalan itu maka
akan diganggu dan bahkan bisa dibacok dengan sebilah parang yang
dimilikinya, sehingga warga kelua dan sekitarnya enggan dan takut
melewati jalan itu dikarenakan takut dibacok oleh orang gila yang
bernama Bacu tadi. Itulah yang menyebabkan jalan itu terkenal dan
disebut-sebut masyarakat kelua adalah Timbuk Sibacu artinya tempat
kediaman nongkrong si Bacu. Walaupun orang yang bernama Bacu tadi sudah
tidak ada lagi, namun sampai sekarang jalan tersebut masih disebut-sebut
dengan nama Timbuk Sibacu.
DESA TALAN
Desa Talan adalah sebuah desa yang bisa dikatakan terpencil. desa
tersebut berada cukup jauh dari keramaian luar atau pusat kota kelua
nya, terakhir kali penulis datang kesana, ternyata jalanan yang ada
disana masih tergolong kurang nyaman, walaupun begitu warga penduduk
disana ramah-ramah.
Asal Muasal dingarani Desa Talan adalah :
Menurut "Nara Sumber" Ilmi mengatakan bahwa dulu kala di desa itu ada
seorang warga yang pergi memancing kehutan menggunakan perahu (jukung).
Setelah sekian lama memancing, untuk melepaskan penatnya, orang tersebut
rebahan di perahunya dan akhirnya tertidur pulas, tiba-tiba datang
seekor ular raksasa yang saking besarnya ular tersebut mampu menelan
bulat-bulat orang tersebut beserta perahunya.
ketika terbangun orang tadi terkejut karena suasana gelap dan ternyata
dia menyadari bahwa dia berada di dalam perut seekor ular raksasa,
kemudian diambilnya parang yang ia miliki dan dengan sebilah parang
tersebut ia mampu keluar dari dalam perut ular raksasa. Ular tersebut
pun mati dan hanyut di Sungai.
Cerita ini berhubungan dengan cerita dibawah Asal Muasal Desa Sungai Wangi.
Setelah Kejadian itu orang tersebut pulang ke kampung nya dan dia
menceritakan semua kisahnya tersebut kepada warga kampungnya, Talan
artinya Menelan, yang bisa diartikan adalah Ular raksasa tadi yang
menelan bulat-bulat perahu/jukung beserta orang dalam perahu tadi.
![]() |
| Sungai di Desa Sungai Wangi |
DESA SUNGAI WANGI
Desa Sungai Wangi adalah sebuah desa kecil yang masih memiliki nuansa
alam yang natural, pepohonan yang hijau, air yang segar, sawah yang
menghampar luas dan suara kicau burung masih dimiliki oleh Desa ini,
warna air sungai dari desa ini adalah hitam kecoklat-coklatan, sangat
berbeda jauh dengan warna dari air sungai pada umumnya.
Mata pencaharian warga setempat kebanyakan adalah bertani dan bercocok
tanam, namun ada juga yang berdagang dan memilih usaha yang lainnya.
Asal Muasal dingarani Desa Sungai Wangi adalah:
Nara Sumber "Angah Ifan dari banua Rantau" mengatakan bahwa Sebelum dinamai Sungai Wangi, desa ini sempat diberi gelar Kampung Babawu
(Kampung yang beraromakan bau busuk) hal ini disebabkan karena pada
kampung tersebut telah mati seekor ular raksasa yang sangat besar dan
tersangkut di ranting-ranting pohon pinggir sungai, di Desa Sungai Wangi
tersebut. Bau busuk yang dikeluarkan ular besar tersebut sangat
menyengat dan merebak luas di kampung tersebut, para penduduk yang
melewati kampung itu mengatakan bahwa ini adalah kampung bebawu, walaupun
oleh warga setempat ular besar itu sudah dibuang jauh dari sungai,
namun bau busuknya tidak hilang begitu saja seperti makan cabe langsung
merasa pedas, bau busuknya berangsur-angsur hilang sedikit demi sedikit
karena saking besarnya ular yang mati tersebut.
Pada tahun 80-an warga setempat dan (tutuha kampung) akhirnya sepakat merubah sebutan desa mereka Kampung Bebawu itu menjadi Sungai Wangi.
DESA BANUA LAWAS / BANUA USANG
Desa Banua Lawas adalah sebuah desa kecil yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, Suasana keislaman masih sangat dapat dirasakan di desa ini.
Desa Banua Lawas memiliki sebuah peninggalan sejarah tua zaman dulu, yaitu Mesjid Pusaka Banua Lawas yang sampai saat ini masih ramai dikunjungi dan diziarahi, baik dari dalam dan luar daerah sekalipun.
Asal Muasal dingarani Banua Lawas adalah :
Pada zaman dulu sebelum agama islam masuk di desa Banua Lawas, para warga desa nya adalah kebanyakan dari Suku Dayak / Non Muslim, di desa Banua Lawas ini telah berdiri sebuah Pesanggarahan yang berfungsi sebagai tempat tinggal Kepala Suku Dayak dan sekaligus dijadikan tempat melakukan musyawarah bagi suku Dayak.
Bangunan pesanggarahan tersebut berukuran 15 X 15 meter. Seluruh perabot pesanggarahan tersebut terbuat dari bambu ( Paring ) dan dindingnnya dari pelapah rumbia (pohon sagu). Pada halaman pesanggarahan tersebut ditaruh 2 buah TAJAU besar dari porselin sebagai tempat penampungan air untuk memandikan anak-anak suku Dayak yang baru lahir.
Pada akhirnya dakwah ajaran agama Islam mulai masuk ke desa tersebut yang dirintis oleh Khatib Dayan dan Sulthan Abdurrahman (Kakak beradik dari Solo), dan ternyata kehadiran mereka dalam meniyiarkan islam dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar suku dayak desa Banua Lawas.
Namun sebagian kecil (minoritas) bagi suku dayak Banua Lawas yang tidak dapat menerima Islam sepakat untuk hijrah kepedalaman dan menetap di daerah Barito Timur seperti Pasar Panas, Tamiyang Layang dan sekitarnya yang dulunya masih sepi.
Walaupun mereka pindah ke pedalaman karena beda keyakinan dengan saudara-saudara dan kerabatnyanya yang memilih islam di desa banua lawas tersebut, namun silaturahmi dan persaudaraan mereka tetap terjalin dengan baik. mereka masih datang dan mengunjungi teman dan kerabat mereka di desa Banua Lawas atau Banua Usang untuk bersilaturahmi, serta untuk berziarah terhadap TAJAU yang mereka anggap sebagai keramat.
Banua Lawas adalah sebutan bagi para suku dayak yang menolak islam dan pindah ke pedalaman tadi, dan apabila mereka datang kembali bersilaturahmi ke desa itu, maka mereka menyebutnya Banua Lawas atau Banua Usang
DESA BANUA LAWAS / BANUA USANG
Desa Banua Lawas adalah sebuah desa kecil yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, Suasana keislaman masih sangat dapat dirasakan di desa ini.
Desa Banua Lawas memiliki sebuah peninggalan sejarah tua zaman dulu, yaitu Mesjid Pusaka Banua Lawas yang sampai saat ini masih ramai dikunjungi dan diziarahi, baik dari dalam dan luar daerah sekalipun.
Asal Muasal dingarani Banua Lawas adalah :
Pada zaman dulu sebelum agama islam masuk di desa Banua Lawas, para warga desa nya adalah kebanyakan dari Suku Dayak / Non Muslim, di desa Banua Lawas ini telah berdiri sebuah Pesanggarahan yang berfungsi sebagai tempat tinggal Kepala Suku Dayak dan sekaligus dijadikan tempat melakukan musyawarah bagi suku Dayak.
Bangunan pesanggarahan tersebut berukuran 15 X 15 meter. Seluruh perabot pesanggarahan tersebut terbuat dari bambu ( Paring ) dan dindingnnya dari pelapah rumbia (pohon sagu). Pada halaman pesanggarahan tersebut ditaruh 2 buah TAJAU besar dari porselin sebagai tempat penampungan air untuk memandikan anak-anak suku Dayak yang baru lahir.
Pada akhirnya dakwah ajaran agama Islam mulai masuk ke desa tersebut yang dirintis oleh Khatib Dayan dan Sulthan Abdurrahman (Kakak beradik dari Solo), dan ternyata kehadiran mereka dalam meniyiarkan islam dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar suku dayak desa Banua Lawas.
Namun sebagian kecil (minoritas) bagi suku dayak Banua Lawas yang tidak dapat menerima Islam sepakat untuk hijrah kepedalaman dan menetap di daerah Barito Timur seperti Pasar Panas, Tamiyang Layang dan sekitarnya yang dulunya masih sepi.
Walaupun mereka pindah ke pedalaman karena beda keyakinan dengan saudara-saudara dan kerabatnyanya yang memilih islam di desa banua lawas tersebut, namun silaturahmi dan persaudaraan mereka tetap terjalin dengan baik. mereka masih datang dan mengunjungi teman dan kerabat mereka di desa Banua Lawas atau Banua Usang untuk bersilaturahmi, serta untuk berziarah terhadap TAJAU yang mereka anggap sebagai keramat.
Banua Lawas adalah sebutan bagi para suku dayak yang menolak islam dan pindah ke pedalaman tadi, dan apabila mereka datang kembali bersilaturahmi ke desa itu, maka mereka menyebutnya Banua Lawas atau Banua Usang
Bagi dangsanak barataan yang ingin berbagi cerita asal muasal nama
kampung yang ada di Kelua dapat menceritakannya pada kolom komentar
dibawah ini.






Post a Comment
Post a Comment