Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, guru di Indonesia dharapakan punya empat kompetensi dalam melaksanakan profesinya, Lihat selengkapnya klik disini.
Selain dari kompetensi di atas guru
juga diberi hak/wewenang dari kepala sekolah untuk menjadi wali kelas siswa
guna membantu kepala sekolah dalam menjalankan Manajemen Sekolah. Bagi
kebanyakan orang menjadi wali kelas siswa merupakan pekerjaan yang menyenangkan
(tutur salah satu guru di SMKN 1 Pugaan), namun dari sekian banyaknya guru ada
yang berpandapat bahwa menjadi wali murid siswa merupakan momok pekerjaan yang
membebankan dan menakutkan. Hal ini mengingat banyaknya beban yang diberikan
oleh guru tersebut serta banyaknya siswa yang ditangani di dalam kelas (bagi
yang banyak masalah). Namun sebagian besar masalah yang paling sulit adalah
yang berhubungan dengan para anak didik (siswa) itu sendiri. Menjadi wali murid
siswa, guru harus mampu benar-benar memahami situasi kondisi serta keadaan
peserta didiknya, baik secara pribadi ataupun umum baik dilingkungan pada saat
sekolah maupun diluar lingkungan sekolah (dirumah). Hal ini bertujuan untuk memudahkan guru dalam
mendidik serta memotivasi siswa menuju dalam keadaan siap belajar dan siap
melakukan perubahan menjadi manusia pembelajar.
Selain
dari hal diatas, sebenarnya pekerjaan menjadi wali kelas siswa adalah pekerjaan
yang mudah, menyenangkan dan membanggakan asalkan para calon wali siswa (guru) tahu
cara nya.
Mendidik manusia sebagaimana hanya
mendidik hewan peliharaan (bukan berarti murid itu adalah hewan. Ckckckckc…) seperti pada cerita saya berikut;
“ Pengalaman yang tak
sengaja saya peroleh dari 2 ekor kucing yang memang dari awal tabiatnya garang,
beringas, liar,dll (layaknya kucing kesambet setan. Hehehe….). Selama masa
pemeliharaan yang di dapat adalah yang berkaitan dengan cara makannya kucing.
Pada waktu setiap keluarga saya makan si kucing pun ikut juga makan, namun hal
yang paling menjengkelkan adalah ketika
pada waktu makan si kucing selalu tidak beraturan, makan semaunya
sendiri (makan sana makan sini), dan selalu berebut dan bertengkar pada
waktu makan. Pada saat itu saya berpikiran untuk merubah tabiat si kucing yang
dulunya cara makannya si kucing selalu tidak beraturan, makan semaunya
sendiri (makan sana makan sini), dan selalu berebut dan bertengkar pada
waktu makan tidak lagi demikian.
Cara demi cara saya lakukan
mulai dari memperhatikan cara makannya, tempat makannya, kapan makan yang pas
diberikan (tidak sama-sama yang punya rumah). Akhirnya tidak beberapa lama
bulan selang kemudian, tabiat kucing yang dulunya si kucing selalu tidak
beraturan menjadi beraturan, makan semaunya sendiri menjadi bisa di
atur (tidak makan sana-makan sini), dan selalu berebut dan bertengkar pada
waktu makan sekarang tidak lagi (peace…. Heheeee…).
Berdasarkan dari
pengalaman saya di atas menggambarkan bahwa mendidik itu bukanlah hal yang
sulit di lakukan oleh semua calon wali murid siswa, asalkan ada niat/kemauan
serta usaha semuanya akan terwujud. Hal ini tergambar dari pengalaman yang saya
peroleh di atas, karena pada hakekatnya manusia dan binatang itu berbeda.
Binatang tak punya akal dan pikiran sedangkan manusia mempunyai akal dan
pikiran. Sebagai pertanyaan, “binatang saja bisa di atur kenapa manusia
tidak????”.
Karena pada
dasarnya manusia adalah :
1.
Manusia adalah makhluk
pembelajar.
2.
Sifat manusia adalah
makhluk yang berfikir (bukan hewan peliharaan seperti cerita di atas)
3.
Manusia bereaksi terhadap
instruksi yang berasal dari lingkungannya jika dibekali dorongan (stimulus)
khusus.
4.
Manusia adalah makhluk
sosial (membutuhkan interaksi antara guru dan siswa).
Membahas tentang hubungan guru dan murid, seorang pakar psikologi ,
Herbart juga merasakan bahwa dalam
interaksi antara guru dan siswa terjadi proses yang sangat dinamis dan
kompleks sehingga sulit untuk dijelaskan secara sederhana. Inilah salah satu alasan
banyak proses belajar yang bermuara pada kegagalan belajar siswa.



Post a Comment
Post a Comment